Kejahatan Profesi

Jumat, 19 November 2010 0 komentar
Saya sudah lama memikirkan hal ini, semakin menguat semenjak saya melahirkan anak pertama kami : Kejahatan profesi, dan yang terpenting pertanyaan apakah saya telah terlibat di dalamnya. Mari kita mulai dari kelahiran anak pertama kami saja, karena kalau harus merunut kebelakang, terlalu jauh dan sulit dipahami.


Melahirkan itu sakit, proses menuju persalinan itu pun sangat menyakitkan. Saya tidak mengalaminya saat melahirkan anak pertama, Naufa. Saya di operasi, singkat dan tak terasa. Meskipun demikian, percayalah, rasa takut yang saya alami -yang seorang dokter ini- sama dengan rasa takut yang dihadapi oleh ibu-ibu lainnya. Saya mengerti benar apa yang akan saya alami, yang saya takutkan adalah berbagai efek yang dapat timbul setelahnya. Siapa bisa menjamin saya tidak alergi obat biusnya? Siapa yang bisa menebak saya tidak akan mengalami embolisme saat operasi berlangsung? Siapa yang bisa mengatakan saya akan hidup dan dapat tertawa-tawa pasca operasi ini berlangsung? Lihat kan, pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat saya ketakutan. Dan saya beruntung dapat melalui semua itu dengan selamat.


Pereda ketakutan itu adalah ibu saya. Tuhan tahu, hanya ibu saya yang bisa menanggung rasa khawatir itu. Ibu saya seorang bidan, beliau lah yang menemani saya dari ruang gawat darurat hingga operasi selesai. Beliau mendapatkan keleluasaan itu, berdiri di samping saya dan bercerita bahwa perut saya mulai disobek, bayinya mulai dikeluarkan, dan mengatakan darah-darah itu mulai disedot. Saya sungguh tenang menjalaninya. Beliau menangis saat Naufa menangis, dan saya kemudian juga ikut menangis bahagia.


Persalinan kedua pun begitu. Ibu saya berdiri di samping kasur pesakitan, menemani saya melewati rasa sakit dan membimbing saya mengedan. Rasa sakitnya luar biasa, dan saya hampir-hampir tidak sanggup melewatinya. Mama yang membisiki saya supaya kuat, supaya tangguh dan berhenti berteriak-teriak. Silmi pun lahir setelah saya tak tahu pergi kemana dibawa rasa sakit. Saya mengerti mengapa melahirkan itu dikatakan perjuangan hidup dan mati. Saat kepala bayi akan keluar, saya benar-benar pergi entah kemana. Melayang, dan tak mendengar lagi sayup-sayup suara. Semua kembali saat sang bayi utuh keluar...Ya kembali, atau tidak selamanya.


Begitulah, Mama ada di saat-saat yang sulit itu. Saya melahirkan Naufa dan Silmi di rumah sakit yang sama, rumah sakit angkatan darat. Rumah sakit itu menjadi pilihan karena Mama sudah dikenal baik di sana, dokter kandungannya pun menaruh hormat pada Mama. Kemudian pikiran menggelitik itu datang: Bagaimana jika Mama orang biasa-biasa saja? Bagaimana jika saya bukan seorang dokter?


Saya harus membayar lebih banyak, untuk fasilitas kelas satu, agar suami atau kerabat lain bisa mendampingi persalinan. Mungkin diperlukan lebih banyak uang lagi agar suami saya bisa masuk ruang operasi, mem-video, dan mengajak saya mengobrol di ruang operasi. Di rumah sakit angkatan darat tempat saya bersalin, bahkan kelas satu atau VIP pun tak dapat keleluasaan pendampingan seperti itu. Sepuluh juta sampai dua puluh delapan juta diperlukan agar saya dapat merasakan ketenangan karena ditemani selama persalinan. Masya Alloh....


Kemudian saya teringat akan masa-masa ko-as dulu. Ibu-ibu melahirkan di kelas tiga sering kami tinggalkan. Kami harus men-CTG di sana-sini dan melakukan tugas-tugas yang diberikan para residen Obgin. Para residen pun demikian, pergi lalu-lalang kesana kemari melakukan segudang tugas mereka. Tidak ada bidan ataupun suster yang bersedia menemani di ruang bersalin. Semua orang hanya datang jika pembukaan sudah lengkap, dan saatnya meneran tiba. Bisakah kalian lihat dimana kejahatan yang saya maksudkan itu? Ya, benar, sang Ibu dibiarkan berjuang dan merasakan rasa nyeri sendirian tanpa dia bisa protes, tanpa bisa memohon kepada seseorang, karena jika dia melakukan itu dia harus naik kelas. Kelas satu sementara jamkesmas di sakunya? Mimpi. Jadi, si Ibu tak punya pilihan selain merasakan kontraksi yang semakin menyakitkan itu sendirian.


Kalau ingat masa-masa itu, saya sungguh menyesal. Beberapa di antara kami bahkan sempat mengomel jika ada ibu yang berteriak-teriak kesakitan. Alih-alih membimbingnya mengingat kebesaran Tuhan, tenaga medis lebih sering mengatakan bahwa semua ibu mengalami hal itu, jadi berteriak-teriak tidaklah berguna dan hanya bikin ribut. So what?! sakit tetaplah sakit, gak ada urusan semua ibu mengalaminya, its personal you know, statistik ndak laku dalam kasus ini. Kalau malas dan lelah menemani sang ibu, please biarkan sang suami atau keluarganya melakukan untukmu. Apa mereka perlu membayar lebih untuk hak mereka? Untuk sesuatu yang sama sekali tidak merugikan siapa pun?


Saya ndak mengerti mengapa rumah sakit menerapkan sistem 'sakit' seperti ini. Dan saya juga ndak mengerti mau curhat sama siapa mengenai masalah kayak gini. Saya hanya kasihan sama kaum saya, para ibu. Dalam benak, saya punya cita-cita bikin rumah bersalin dengan sistem yang sayang dan ramah terhadap ibu dan bayi. Pengen banget mewujudkan cita-cita itu, walaupun saya bukan dokter kandungan.


Mungkin terlalu ekstrim mengatakan hal yang baru saya kemukakan sebagai kejahatan profesi, tapi biarkan saya menyebutnya demikian ya...supaya seram kedengarannya, dan supaya saya ndak berani lagi melakukanya.


Ya Alloh, lindungilah kami para ibu.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

©Copyright 2011 Snack For Soul | TNB